Bekali Anak dengan Sasa Santan Kelapa saat Musim Berkemah Tiba

Bekali Anak dengan Sasa Santan Kelapa saat Musim Berkemah Tiba

Musim berkemah selalu hadir setahun sekali pada tahun ajaran SMP hingga strata pendidikan ke atas. Kemarin saya membekali Si Bungsu yang mau berkemah dengan Sasa santan kelapa. Kalau tidak salah sekitar 3 bungkus. Soalnya dia pamit pada saya hanya menginap semalam. Mungkin 3 bungkus cukup untuk persediaan sampai pulang.

Awalnya dia bertanya-tanya, “Kenapa membekaliku santan dari kelapa, Bu?” Saya hanya menjawab sekenanya. Biar dia tidak kerepotan saat ingin memasak makanan berkuah. Soalnya dibandingkan dengan tumis maupun sop, Si Bungsu memang lebih lahap ketika menyantap makanan berkuah santan di rumah.

Saya mengarahkan juga cara pemakaiannya. Boleh dimasak. Boleh juga tidak dimasak. Soalnya produk santan dari Sasa itu sudah matang, steril, dan bebas kolesterol tinggi. Jadi bisa dikonsumsi langsung tanpa basa-basi. Untungnya argumen saya didukung dia kalau di sekolahan memang ada acara memasak jelang api unggun dinyalakan.

Yah, bagaimanapun saya juga pernah muda. Saya juga pernah mengalami masa-masa sulit saat berkemah. Justru zaman saya lebih sulit daripada Si Bungsu. Sekarang banyak wilayah strategis untuk berkemah. Tanpa risiko didatangi binatang liar dan semacamnya. Pemandu dari sekolah juga jauh lebih banyak.

Kalau zaman saya boro-boro. Tempat berkemah benar-benar pinggir hutan yang sunyi. Sudah begitu banyak hantunya. Ketika ada acara memasak, saya dan teman-teman saya sewaktu muda kesulitan mencari air. Sulit bukan berarti tak ada. Tetapi takut kalau-kalau ada hantu yang mengikuti kami.

Ditambah lagi panitia yang usil dengan menyamar jadi hantu. Alhasil semalaman saya dan teman saya kelaparan. Memasak hanya pakai sisa air mineral bekas jalan-jalan seharian penuh. Makan tak enak, masak pun ala kadarnya. Saat itu kawan-kawan saya satu lokasi merasakan hal yang sama. Akhirnya murid dan panitia adu mulut.

Duh, saya tidak mau Si Bungsu mengalami hal-hal seperti yang saya alami dulu. Beruntungnya lokasi kemah Si Bungsu dekat dengan tempat ramai. Meskipun letaknya di lapangan bekas kuburan. Dengan bekal santan kelapa dari Sasa, maka kebutuhan dia terjamin. Siapa tahu saat di lokasi mau makan makanan bersantan.

Saya juga sudah membekalinya dengan sayuran tumis kacang. Jadi kalau mau makan tinggal siram saja ke atas nasi. Rasanya sama. Atau masak sebentar juga boleh dengan menambahkan beberapa bumbu. Saya sengaja bekali tumis kacang biar bisa bertahan agak lama. Siapa tahu tidak ada acara masak-memasak.

Dengan bekal seperti itu, saya tidak khawatir lagi Si Bungsu jajan di luar. Kebanyakan jajanan di luar banyak pengawetnya. Tidak seperti Sasa santan kelapa yang 100% tanpa pengawet. Agar dia lebih yakin, saya bilang saja kalau santan dengan kemasan Sasa itu tingkat kesegarannya setara dengan santan hasil perasan kelapa langsung.

Boleh juga kalau mau dipakai untuk memasak yang lain. Soalnya santan olahan Sasa ini memang bisa dipakai untuk segala jenis makanan maupun minuman. Akhirnya setelah saya edukasi sebentar dia menatap saya bangga. Dia bilang kalau saya ibu yang sangat pengertian dengan anak-anaknya. Duh, saya jadi gimana gitu.

Kalau Si Sulung yang sudah merantau di Jakarta tahu pasti iri. Soalnya dia tidak saya bekali apa-apa sewaktu berkemah pada awal SMA. Yah, mau bagaimana lagi. Orang saat itu belum ada santan kelapa yang ini. Harapan saya sih mudah-mudahan Si Bungsu bisa berbaur dengan kawan-kawannya. Tidak lagi ketakutan saat tidur di tempat gelap.

Bagaiamana dengan ibu-ibu yang ada di rumah, sudahkah anda menyiapkan Sasa Santan, Aslinya Santan untuk bekal anak anda nantinya ketika mau berkemah? tunggu apa lagi siapkanlah mulai dari sekarang.

Share This Post

Post Comment